Masjid dan Pendidikan

Feb 01,2018
Hanya mereka yang memakmurkan (memberdayakan) masjid-masjid Allah, orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, menegakkan solat, menunaikan zakat, dan tidak takut (kepada siapapun) kecuali kepada Allah, maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan yang mendapat petunjuk” (Q.S. At-Taubah: 18).

Semaraknya kegiatan-kegiatan ibadah di masjid tentu ingatan kita pada masa lampau. Dimana saat itu, Rasulullah SAW berada di Kota Madinah yang masjidnya semarak dengan berbagai kegiatan umat. Masjid di jaman Rasulullah Saw, seperti ditulis oleh Kauzar Niazi dalam Role of The Mosqoe (1976) telah difungsikan antara lain:
  • Pusat pendidikan dan pengajaran
  • Pusat informasi dalam mengumumkan keputusan-keputusan yang terkait dengan kepentingan masyarakat
  • Tempat menerima dan mengadakan pertemuan dengan tamu-tamu resmi
  • Tempat musyawarah dan dialog yang berkaitan dengan kepentingan kehidupan umat
  • Tempat peradilan dalam menyelesaikan masalah umat
  • Tempat menyimpan khazanah ilmu pengetahuan (perpustakaan), dan masih banyak lagi fungsi-fungsi lainnya yang erat kaitannya dengan kebutuhan umat dalam kehidupan bermasyaraka
Di masa itu fungsi masjid adalah memfasilitasi umat agar merasa nyaman, sejuk dan damai serta khusuk dalam beribadah ritual seperti solat, zakat, i’tikaf dan ibadah lain. Masjid pun menjadi sentral kegiatan umat yang berkesinambungan dan berkaitan dengan aspek kehidupan sosial kemasyarakatan yang bermuara pada pengabdian kepada Allah SWT. Sebagai tempat ibadah, dalam perkembangannya masjid juga digunakan sebagai tempat belajar untuk masyarakat, terutama belajar ilmu keagamaan. Hal ini bahwa di tempat tersebut telah ada proses pendidikan yang kita kenal dengan proses "pendidikan non formal".

Pada sebagian besar orang, pada awalnya beranggapan bahwa pendidikan adalah belajar dalam rangka pendidikan formal (sekolah), sejak sekolah tingkat bawa sampai sekolah yang tertinggi. Sejalan dengan hal tersebut akan banyak pula diantara mereka berpendapat bila seseorang telah keluar dari sekolah berarti ia telah selesai dalam proses pendidikannya. Lalu bagaimana dengan hidupnya mereka diserahkan pada hasil belajar yang dicapai di sekolah sehingga belajar disekolah menentukan corak kehidupan seseorang dalam masyarakat. Jadi sekolah merupakan tumpuan hidup seseorang, yang kata lain sekolah sebagai; “…station in life… “nya seseorang (Joeseof, 1992: 21).

Sesungguhnya, mereka belum menyadari di luar sekolah mereka masih sering belajar seperti melalui buku, radio, atau seseorang ahli. Memang pada kenyataan: “…every year, every man, every day step by step a person learns, feels the desire an is given the opportunity to learn.” (United Nation, 1953 : 4). Lebih lanjut disebutkan: ”education does not end at 15 or even 25 but is on going, self creativy, self fulfilling, continues and dis continues until death” (United Nation, 1953:4). Realitas yang lain tidak bisa disangkal bahwa di luar sekolah, terdapat: “…lembaga-lembaga, kegiatan-kegiatan lain yang menyelenggarakan pendidikan sangat banyak seperti “mass education, extention education, adult education…” (Santoso, 1956: 46) sedangkan di Indonesia telah diselenggarakan: “pendidikan masyarakat yang telah dilaksanakan oleh jawatan pendidikan masyarakat”. (Santoso. RA, 1956: 47). Pada lembaga-lembaga ini seseorang dapat mengikuti proses pendidikan sesuai yang tanpa mengalami hambatan atau paksaan dari siapapun.

Pendidikan non formal adalah pendidikan yang diselenggarakan di luar sekolah, baik yang dilembagakan maupun tidak (Oong Komar, 2006: 197). Penyelenggaraan pendidikan non formal lebih terbuka, tidak terikat, dan tidak terpusat. Program pendidikan non formal dapat merupakan lanjutan atau pengayaan dari bagian program sekolah, dan dapat merupakan program yang setara dengan pendidikan sekolah. Proses pembelajaran pendidikan non formal mempunyai keleluasaan jauh lebih besar daripada pendidikan sekolah. Pendidikan non formal secara cepat dapat disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat yang senantiasa berubah. Pendidikan non formal dapat menangani kegiatan pendidikan yang tidak diselenggarakan melalui jalur pendidikan sekolah. Pendidikan non formal merupakan jembatan antara pendidikan sekolah dengan dunia kerja, dengan demikian pendidikan non formal dapat sebagai penambah (supplement), pelengkap (Complement), dan/atau pengganti (substitute) pendidikan sekolah yang tidak dapat diselenggarakan melalui jalur pendidikan sekolah. Dari uraian di atas, dapat dirujuk pengertian pendidikan non formal mengacu kepada tempat berlangsungnya kegiatan pendidikan.

Selain itu terdapat pula pengertian pendidikan non formal yang mengacu pada proses penyelenggaraan kegiatan ataupun membandingkan dengan satuan pendidikan yang lain. Pengertian pendidikan non formal yang mengacu pada proses penyelenggaraan kegiatannya dapat didefinisikan oleh berbagai definisi para ahli sebagai berikut:
  • Menurut SEAMEO (1971) pendidikan non formal adalah setiap upaya pendidikan dalam arti luas yang di dalamnya terdapat komunikasi yang teratur dan terarah serta diselenggarakan di luar sistem sekolah sehingga seseorang atau kelompok memperoleh informasi, latihan dan bimbingan sesuai dengan tingkatan usia dan kebutuhannya. (Sudjana, 1989).
  • Menurut Coombs (1973) "Non formal education is distinguished from formal and in formal education and is defined broadly as any organized educational activity outside the established formal system-whether operating separately or as an important feature for some broader activity that is intended to serve identifiable learning clienteles and learning objectives"
  • Menurut W.P. Napitupulu (1981) adalah setiap usaha pelanan pendidikan yang diselenggarakan di luar sistem sekolah, berlangsung seumur hidup, dijalankan dengan sengaja, teratur dan berencana yang bertujuan untuk mengaktualisasi potensi manusia (sikap, tindakan dan karya) sehingga dapat terwujud manusia seutuhnya yang gemar belajar dan mampu meningkatkan taraf hidupnya.
  • Menurut Sudjana (1989) adalah setiap kegiatan belajar membelajarkan yang terorganisasi, sistematis, sengaja dan berkelanjutan diselenggarakan di luar jalur pendidikan sekolah dengan tujuan untuk membantu peserta didik dalam mengaktualisasi potensi diri berupa pengetahuan, sikap, keterampilan dan aspirasi yang bermanfaat bagi dirinya, keluarga, masyarakat, lembaga, bangsa dan negara.
Dari pengertian-pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa pendidikan non formal adalah pendidikan yang diselenggarakan di luar sistem persekolahan yang bertujuan untuk meningkatkan, menumbuhkan dan mengaktualisasikan potensi warga belajar atau peserta didik. Upaya pendidikan yang diselenggarakan dalam konsep pendidikan luar sekolah bermacam-macam pelaksanaannya. Kegiatan pendidikan luar sekolah lebih mengedepankan kepada kebutuhan belajar warga belajar dalam hal ini jamaah (warga belajar dalam majelis taklim). Penyelenggaraan kegiatan yang mengacu pada konsep pendidikan non formal bisa terjadi dimana saja dan kapan saja. Salah satu kegiatan yang sebetulnya merupakan bentuk kegiatan pendidikan luar sekolah adalah kegiatan yang dilaksanakan pada tempat-tempat ibadah seperti di dalam masjid yang diikuti oleh para jamaah atau santri kepada ustadz (ustadzah) yang dijadikan sebagai nara sumber dalam kegiatan di dalam majelis taklim tersebut.

Bagi setiap warga negara berhak memperoleh pendidikan sepanjang perjalanan hidupnya. Sistem pendidikan nasional memberikan kesempatan belajar yang seluas-luasnya dan memberikan hak penuh untuk memperoleh pendidikan pada tahapan manapun dalam perjalanan kehidupannya. Oong Komar (2006) memberi rincian tujuan pendidikan non formal adalah sebagai berikut:
  • Melayani warga belajar supaya dapat tumbuh dan berkembang sedini mungkin dan sepanjang hayatnya guna meningkatkan martabat dan mutu kehidupannya
  • Membina warga belajar agar memiliki pengetahuan, keterampilan dan sikap mental yang diperlukan untuk mengembangkan diri, bekerja mencari nafkah atau melanjutkan ke tingkat dan atau jenjang pendidikan yang lebih tinggi.
  • Memenuhi kebutuhan belajar masyarakat yang tidak dapat dipenuhi dalam jalur pendidikan sekolah.
Merujuk dari satu tujuan di atas bahwa salah satu kegiatan yang dapat dilayani oleh masyarakat dan pendidikan sekolah tidak dapat melayaninya adalah kegiatan keagamaan yang dilakukan oleh para anak-anak, remaja dan para orang tua dewasa, (dalam hal ini jamaah masjid) yang membutuhkan pendidikan keagamaan (siraman rohani) atau pengajian serta kajian tentang ilmu agama. Untuk itu, majelis taklim adalah salah satu solusi bagi jamaah untuk menimba ilmu agama dan ilmu lain yang dapat dilaksanakan dalam konteks pembelajaran atau peningkatan ilmu keagamaan yang dibutuhkan oleh para jamaah, maka pendidikan non formal yang berwujud majelis taklim adalah solusi yang dapat diselenggarakan pada tempat-tempat ibadah seperti halnya masjid Salah satu satuan pendidikan non formal adalah Majelis Taklim (UU No. 20 Tahun 2003, Pasal 26).

Kegiatan pendidikan non formal, seperti majelis taklim pada dasarnya sudah diselenggarakan sebelum masyarakat mengenal istilah pendidikan luar sekolah (sekarang pendidikan non formal). Majelis Taklim di Indonesia lebih banyak diselenggarakan di masjid-masjid yang seharusnya sebagai tempat ibadah, hal ini tidak mengurangi makna dan kesucian masjid sebagai tempat ibadah, karena masjid adalah tempat yang mudah untuk mengumpulkan orang dan mudah dalam penyelenggaraan segala kegiatan yang berkaitan dengan pengkajian dan pengembangan ilmu terutama ilmu keagamaan. Penyelenggara pendidikan non formal dapat terdiri atas pemerintah, kelompok atau perorangan yang bertanggung jawab atas pelaksanaan jenis pendidikan yang diselenggarakannya.